Sistem
Pencernaan dan Pernapasan
A. Sistem Pencernaan
1. Sistem Pencernaan Pisces
a.
Mulut
Bagian terdepan dari mulut adalah bibir, pada ikan-ikan tertentu bibir
tidak berkembng dan malahan hilang secara total karena digantikan oleh paruh
atau rahang (ikan famili scaridae, diodotidae, tetraodontidae). Pada ikan
belanak atau tambakan, bibir berkembang dengan baik dan menebal, bahkan
mulutnya dapat disembulkan.
b.
Rongga mulut
Di bagian belakang mulut terdapat ruang yang disebut rongga mulut. Rongga
mulut ini berhubungan langsung dengan segmen faring. Secara anatomis organ yang
terdapat pada rongga mulut adalah gigi, lidah dan organ palatin. Permukaannya dilapisi epitelium berlapis, terdapat
sel-sel penghasil lendir untu mempermudah masuknya makanan, dan terdapat organ
pengecap.
c.
Faring
Lapisan permukaan faring hampir sama dengan rongga mlut, masih ditemukan
organ pengecap, Sebagai tempat proses penyaringan makanan.
d.
Esofagus
Permulaan dari saluran pencernaan yang berbentuk seperti pipa, mengandung
lendir untuk membantu penelanan makanan. Pada ikan laut, esofagus berperan
dalam penyerapan garam melalui difusi pasif menyebabkan konsentrasi garam air
laut yang diminum akan menurun ketika berada di lambung dan usus sehingga
memudahkan penyerapan air oleh usus belakang dan rectum (proses osmoregulasi).
e.
Lambung
Lambung merupakan segmen pencernaan yang diameternya relatif lebih besar
bila dibandingkan dengan organ pencernaan yang lain. Besarnya ukuran lambung
berkaitan dengan fungsinya sebagai penampung makanan. Seluruh permukaan lambung
ditutupi oleh sel mukus yang mengandung mukopolisakarida yang agak asam
berfungsi sebagai pelindung dinding lambung dari kerja asam klorida. Sebagai
penampung makanan dan mencerna makanan secara kimiawi
f.
Usus ( intestinum)
Merupakan segmen yang terpanjang dari saluran pencernaan. Intestinum
berakhir dan bermuara keluar sebagai anus. Merupakan tempat terjadinya proses
penyerapan zat makanan
g.
Rektum
Segmen saluran
pencernaan yang terujung. Secara anatomis sulit dibedakan batas antara usus
dengan rektum. Namun secara histologis batas antara kedua segmen tersebut dapat
dibedakan dengan adanya katup rektum.
h.
Kloaka
Kloaka adalah ruang tempat bermuaranya saluran pencernaan dan saluran
urogenital. Ikan bertulang sejati tidak memiliki kolaka, sedangkan ikan
bertulang rawan memiliki organ tersebut.
i.
Anus
Anus merupakan ujung dari saluran pencernaan. Pada ikan bertulang sejati
anus terletak di sebelah depan saluran genital. Pada ikan yang bentuk tubuhnya
memanjang, anus terletak jauh dibelakang kepala bedekatan dengan pangkal ekor.
Sedangkan ikan yang tubuhnya membundar, posisi anus terletak jauh di depan
pangkal ekor mendekati sirip dada.
Kelenjar Pencernaan
Kelenjar pencernaan berguna untuk menghasilkan
enzim pencernaan yang nantinya akan bertugas membantu proses penghancuran
makanan. Enzim pencernaan yang dihasilkan oleh ikan buas juga berbeda dengan
ikan vegetaris.
Hati meupakan organ penting yang mensekresikan
bahan untuk proses pencernaan. Secara umum hati berfungsi sebagi tempat
metabolisme karbohidrat, lemak dan protein serta tempat memproduksi cairan
empedu.
Pankreas merupakan organ yang mensekresikan bahan
(enzim) yang berperan dalam proses pencernaan. Pankreas ada yang berbentuk
kompak dan ada yang diffus (menyebar) di antara sel hati.
Proses Pencernaan
Sebelum makanan di sambar dan ditelan, terlebih
dahulu telah menimbulkan rangsangan berupa nafsu untuk makan. Nafsu untuk makan
ini dapat dirangsang melalui penglihatan, bau dan rabaan. Begitu ada nafsu
untuk makan, maka alat-alat pencernaanya segera bersiap-siap untuk menerima
makanan dan selanjutnat mencernakannya. Setelah makanan digigit, untuk
menelannya diperlukan bahan pelicin yaitu air liur. Selai sebagai pelicin, air
liur juga mengandung enzim ptialin yang merupakan enzim pemecah karbohidrat
menjadi maltosa yang kemudaian dilanjutkan menjadi glukosa. Tapi karena ikan tidak
mengunyah makanan, padahal pemecahan karbohidrat membutuhkan waktu yang lama,
maka ptialinnya baru dapat bekerja aktif setelah makanan sampai di lambung.
Selain mengandung enzim ptialin, air liur juga mengandung senyawa penyangga
derajat keasaman (bufer) yang berguna untuk memecah terjadinya penurunan pH
agar proses pencernaan dapat berjalan normal.
Apabila makanan telah masuk ke dalam saluran
pencernaan, maka dindng saluran pencernaannya akan terangsang untuk
menghasilkan hormon gastrin. Hormon ini akan memacu pengeluaran asam klorida
(HCL) dan pepsinogen. HCL akan mengubah pepsinogen menjadi pepsin yang
merupakan enzim pencernaan akif, yaitu sebagai pemecah protein menjadi pepton
(polipeptida). Apabila makanannya banyak mengandung lemak, maka akan dihasilkan
juga hormon entergastron.
Di dalam usus, makanan itu sendiri akan merangsang
keluarnya hormon kolsistokinin. Hormon ini kemudian akan memacu keluarnyagetah
empedu dari hati. Getah empedu itu sebenarnya dibuat dari sel-sel darah merah
yang telah rusak di dalam hati. Pengeluaran getah empedu tersebut melalui
pembuluh hepatikus yang kemidaian ditampung di dalam kantong empedu. Fungsi
getah empedu tersebut adalah memeperhalus butiran-butiran lemak menjadi emulsi
sehingga mudah larut dalam air dan diserap oleh usus.
Dinding usus juga mengeluarkan hormon sekretin dan
pankreozinin. Sekretin akan memacu pengeluaran getah empedu dan pankreas. Getah
penkreas ini mengandung enzim amilase, lipase dan protase. Sedangkan hormon
pankreozinin menyebabkan rangsangan untuk mempertinggi produksi getah pankreas.
Enzim amilase
akan memecah karbohidrat menjadi glukosa. Enzim lipase memecah lemak menjadi
asam lemak dan gliserol. Sedangkan protase memecah protein menjadi asam amino.
Ketiga enzim tersebut dapat mencapai puncak keaktifan apabila kadar protein
dalam makanan antara 40-60%. Apabila kadar proteinnya berubah maka untuk
mencapai puncak keaktifan, enzim-enzim tersebut membutuhkan waktu untuk
menyseuaikan diri.
2. Sistem Pencernaan Reptil
System
pencernaan pada reptile terdiri atas saluran pencernaan dan
kelenjar pencernaan. Reptile pada umumnya terdiri atas saluran
pencernaan dan kelnejar pencernaan. Pada umumnya reptile adalah
karnivora (pemakan daging). Saluran pencernaannya terdiri dari mulut,
kerongkongan, lambung, usus dan kloaka. Dan kelenjar pencernaannya terdiri atas
kelenjar ludah, pancreas dan hati.
a. Rongga Mulut
Mulut yang
dapat terbuka lebar memiliki dentes (gigi-gigi) yang berfungsi untuk keperluan
ofensif dan mempertahankan serta mengunyah mangsanya. Barisan gigi itu dapat
dibedakan atas dua deretan .deretan gigi yang conisch (bentuk kerucut) menempel
pada rahang, dan gigi pleurodont, bengkok kea rah cavum oris. Pada palatum
(langit-langit) terdapat deretan gigi halus yang disebut dentes palatine. Rongga
mulut Disokong oleh rahang atas dan rahang bawah. Dan khusus pada ular berbisaakan tumbuh gigi yang dapat
menghasilkan racun yang terdapat pada ronggamulut.
Pada buaya giginya bisa mnegalami 50 kali pergantian. Pada umumnya reptil
tidak mengunyah makanannya jadi giginya berfungsi sebagai penangkap mangsa.
Pada rongga mulut terdapat lidah yang pipih dan melekat pada tulang lidah
dengan ujung bercabang dua atau bersifat bipida yang terletak di dasar
cavum oris.
b.
Kerongkongan (esophagus)
Merupakan saluran di belakang rongga mulut yang menyalurkan makanan dari rongga mulut ke lambung. Di
dalam esophagus tidak terjadi proses pencernaan.
c. Lambung (ventrikulus)
Terdiri atas
bagian yang agak bulat yaitu fundus dan agak kecil yatu piloris. Lambung
merupakan tempat penampungan makanan dan pencernaan
makanan berupa saluran pencernaan yang membesar dibelakang esophagus.
d. Intestinum
Terdiri dari
usus halus dan usus tebal yang bermuara pada anus. Dalam usus halus terjadi proses penyerapan dan sisanya
menuju ke rectum, kemudian diteruskan ke kloaka untuk
dibuang.
Kelenjar
pencernaan, terdiri atas hati dan pancreas. Empedu yang dihasilkan oleh hati ditampung di dalam kantong yang disebut
vesica fellea. Hati tediri dari dualobus yaitu sinister dan dexter yang
berwarna coklat kemerahan. Kantong empedu terletak pada tepi sebelah kanan
hati. Pancreas pada reptile terletak diantaralambung dan duodenum. Pancreas
berbentuk pipih dan berwarna kekuning-kuningan.
3. Sistem Pencernaan Aves
Sistematis pencernaan makanan pada burung :
Mulut / paruh → Kerongkongan → Tembolok → Lambung
kelenjar →
Lambung pengunyah → Hati → Pankreas → Usus halus → Usus besar →
Usus buntu → Poros usus (rectum) → Kloaka.
Lambung pengunyah → Hati → Pankreas → Usus halus → Usus besar →
Usus buntu → Poros usus (rectum) → Kloaka.
Fungsi Organ
Pencernaan Pada Aves:
a.
Paruh :
Mengambil makanan.
b.
Kerongkongan
: Saluran makanan menuju tembolok
c.
Tembolok :
Menyimpan makanan sementara.
d.
Lambung
kelenjar : Mencerna makanan secara kimiawi.
e.
Lambung
pengunyah : Menghancurkan makanan.
f.
Hati :
Membantu mancerna makanan secara mekanis.
g.
Pankreas :
Menghasilkan enzim.
h.
Usus halus :
Tempat pencernaan sari makanan yang diserap oleh kapiler darah pada dinding
usus halus.
i.
Usus besar :
Saluran sisa makan ke rectum.
j.
Usus buntu :
Memperluas daerah penyerapan sari makanan.
k.
Poros usus :
Tempat penyimpan sisa makanan sementara.
l.
Kloaka : Muara
3 (tiga) saluran,yaitu :
- Pencernaan usus.
- Saluran uretra dari ginjal
- Saluran kelamin
- Pencernaan usus.
- Saluran uretra dari ginjal
- Saluran kelamin
Pada mulut
terdapat paruh yang sangat kuat dan berfungsi untuk mengambil makanan. Makanan
yang diambil oleh paruh kemudian masuk kedalam rongga mulut lalu menuju
kerongkongan. Bagian bawah kerongkongan membesar berupa kantong yang disebut
tembolok.Kemudian masuk ke lambung kelenjar. Disebut lambung kelenjar karena
dindingnya mengandung kelenjar yang menghasilkan getah lambung yang berfungsi
untuk mencerna makan secara kimiawi. Kemudian makan masuk menuju lambung
pengunyah. Disebut lambung pengunyah karena dindingnya mengandung otot-otot
kuat yang berguna untuk menghancurkan makanan. Didalam hati,empedal sering
terdapat batu kecil atau pasir untuk membantu mencerna makanan secara mekanis. Kemudian,
makanan masuk menuju usus halus. Enzim yang dihasilkan oleh pankreas dan empedu
dialirkan kedalam usus halus. Hasil pencernaan berupa sari-sari makanan diserap
oleh kapiler darah pada dinding usus halus.Burung mempunyai dua usus buntu yang
terletak antara lambung dan usus.Usus buntu berguna untuk memperluas daerah
penyerapan sari makanan. Sisa makanan didorong ke usus besar kemudian kedalam
poros usus (rektum) dan akhirnya dikeluarkan melalui kloaka.
4.
Sistem
Pencernaan Pada Mamalia
a. Manusia
1)
Mulut
Suatu rongga
terbuka tempat masuknya makanan dan air pada hewan. Mulut biasanya terletak di
kepala dan umumnya merupakan bagian awal dari sistem pencernaan lengkap yang
berakhir di anus.
Bagian-bagian
yang terdapat dalam mulut:
·
Gigi (dens)
·
Lidah
(lingua) adalah kumpulan otot rangka pada bagian lantai mulut yang dapat
membantu pencernaan makanan dengan mengunyah dan menelan. Berfungsi untuk:
Ø
sebagai
indera pengecap/perasa
Ø
mengaduk
makanan di dalam rongga mulut
Ø
membantu
proses penelanan
Ø
membantu
membersihkan mulut
Ø
membantu
bersuara/berbicara
·
Ludah (saliva) dihasilkan
oleh kelenjar ludah
2)
Esofagus/Kerongkongan
Esofagus
adalah tabung (tube) berotot pada vertebrata yang dilalui sewaktu
makanan mengalir dari bagian mulut ke dalam lambung. Makanan berjalan melalui
esofagus dengan menggunakan proses peristaltik.
3)
Lambung
Lambung atau
ventrikulus berupa suatu kantong yang terletak di bawah sekat rongga badan.
Fungsi lambung secara umum adalah tempat di mana makanan dicerna dan sejumlah
kecil sari-sari makanan diserap. Lambung dapat dibagi menjadi tiga daerah,
yaitu daerah kardia, fundus dan pilorus. Kardia adalah bagian
atas, daerah pintu masuk makanan dari kerongkongan . Fundus adalah
bagian tengah, bentuknya membulat. Pilorus adalah bagian bawah,
daerah yang berhubungan dengan usus 12 jari duodenum.
Dinding
lambung tersusun menjadi empat lapisan, yakni mucosa, submucosa, muscularis,
dan serosa. Mucosa ialah lapisan dimana sel-sel
mengeluarkan berbagai jenis cairan, seperti enzim, asam lambung, dan hormon.
Lapisan ini berbentuk seperti palung untuk memperbesar perbandingan antara luas
dan volume sehingga memperbanyak volume getah lambung yang dapat dikeluarkan. Submucosa ialah
lapisan dimana pembuluh darah arteri dan vena dapat
ditemukan untuk menyalurkan nutrisi dan oksigen ke sel-sel perut sekaligus
untuk membawa nutrisi yang diserap, urea, dan karbon dioksida dari sel-sel
tersebut. Muscularis adalah lapisan otot yang membantu perut
dalam pencernaan mekanis. Lapisan ini dibagi menjadi 3 lapisan otot, yakni otot
melingkar, memanjang, dan menyerong. Kontraksi dan ketiga macam lapisan otot
tersebut mengakibatkan gerak peristaltik (gerak
menggelombang). Gerak peristaltik menyebabkan makanan di dalam lambung
diaduk-aduk. Lapisan terluar yaitu serosa berfungsi sebagai
lapisan pelindung perut. Sel-sel di lapisan ini mengeluarkan sejenis cairan
untuk mengurangi gaya gesekan yang terjadi antara perut dengan anggota tubuh
lainnya.
4)
Usus
Usus halus atau usus kecil adalah bagian dari
saluran pencernaan yang terletak di antara lambung dan usus besar. Usus halus
dibagi menjadi 3 bagian, yaitu :
·
Usus dua belas jari (bahasa
Inggris: duodenum) adalah bagian dari usus halus yang terletak
setelah lambung dan menghubungkannya ke usus kosong (jejunum).Di bagian ini terdapat
beberapa enzim yang sangat di butuhkan dalam proses pencernaan, antara lain :
Ø
Enterokinase,
untuk mengaktifkan tripsinogen yang dihasilkan pankreas;
Ø
Erepsin atau
dipeptidase, untuk mengubah dipeptida atau pepton menjadi asam amino;
Ø
Laktase,
mengubah laktosa menjadi glukosa;
Ø
Maltase,
berfungsi mengubah maltosa menjadi glukosa;
Ø
Disakarase,
mengubah disakarida menjadi monosakarida;
Ø
Peptidase,
mengubah polipeptida menjadi asam amino;
Ø
Lipase,
mengubah trigliserida menjadi gliserol dan asam lemak;
Ø
Sukrase,
mengubah sukrosa menjadi fruktosa dan glukosa.
·
Usus kosong atau jejunum (terkadang sering
ditulis yeyunum) adalah
bagian kedua dari usus halus, di antara usus dua belas jari (duodenum) dan usus
penyerapan (ileum). Pada manusia dewasa, panjang seluruh usus halus antara 2-8
meter, 1-2 meter adalah bagian usus kosong.
·
Usus penyerapan (bahasa
Inggris: ileum) adalah bagian terakhir dari usus halus. Pada sistem
pencernaan manusia, )duodenum dan jejunum, dan dilanjutkan oleh usus buntu.
Ileum memiliki pH antara 7 dan 8 (netral atau sedikit basa) dan berfungsi
menyerap vitamin B12 dan garam-garam empedu. Ileum memiliki panjang sekitar 2-4
m.
5)
Anus
Proses
pengeluaran sisa – sisa makanan melalui anus.
Glandula digestoria (kelenjar pencernaaan) :
·
Glandula salivarae
kelenjar ludah
·
Glandula
mucosae : terdapat pada dinding sebelah dalam dari ventriculus dan intestinum
(terutama intestinum tenue)
·
Hepar (hati)
: suatu kelenjar yang besar berwarna kecoklat-coklatan, terbagi atas beberapa
lobi. Dari tiap lobi terdapat ductus hepaticus yang mengeluarkan sekresi ke
vesica vellea (kantong empedu)
·
Pancreas :
kelenjar ini terletak antara pars ascendens dan pars descendens dari duodenum
berwarna merah muda, bersaluran yang disebut ductus pancreaticus yang akhirnya
bersatu dengan ductus cysticus membentuk ductus cholidocus. Saluran yang
terakhir itu akan menuangkan sekresinya ke duodenum. Kecuali itu pada pancreas
terdapat sel yang disebut insulae langerhensi (island of langerheng)
menghasilkan sekresi (hormone) berupa insulin yang berlangsung masuk pembuluh
darah.
b. Hewan
Hewan
memamah biak ( Ruminantia ) adalah sekumpulan hewan pemakan tumbuhan yang
mencerna makanannya dalam dua langkah:
·
Dengan
menelan bahan mentah
·
Mengeluarkan
makanan yang sudah setengah dicerna dan mengunyahnya lagi.
·
Lambung
hewan-hewan ini tidak hanyamemiliki satu ruang ( monogastrik) tetapi lebih dari
satu ruang ( poligastrik ), atau secara umum bisa dikatakan berperut
banyak
Perbedaan
antara hewan ruminansia dengan mamalia lainnya Terlihat pada susunan dan fungsi
gigi serta lambung.
Hal ini
berkaitan dengan jenis makanannya.
·
Gigi geraham
(premolare & molare) sangat besar,kuat, bergelombang seperti papan pencuci.
Serta berfungsi untuk menggiling dan menggilas dinding seltumbuhan yg dimakan.
·
Gigi seri
berbentuk seperti kapak, berfungsi untukmenjepit dan memotong makanan.
·
Antara gigi
seri dan geraham terdapat rongga yangdisebut diastema
Memiliki 4
ruangan lambung, yaitu :
·
Rumen
atauperut besar (berisi bakteri dalam cairan alkali)
·
Retikulum
(perut jala)
·
Omasum
(perut masam)
·
Abomasum
atau perut kitab (merupakan lambungyang sesungguhnya). contoh hewan ruminansia
adalah sapi, dll.
Struktur
khusus sistem pencernaan hewan ruminansia :
·
Gigi seri
(Insisivus) memiliki bentuk untuk menjepit makanan berupa tetumbuhan seperli
rumput.
·
Geraham
belakang (Molare) memiliki bentuk datar dan lebar.
·
Rahang dapat
bergerak menyamping untuk menggiling makanan.
·
Struktur
lambung memiliki empat ruangan, yaitu: Rumen (fermentor), Retikulum, Omasum dan
Abomasum ( Lambung yang sebenarnya sehingga terjadi pencernaan enzimatis).
Pola sistem
pencernaan pada hewan umumnya sama dengan manusia, yaitu terdiri atas mulut,
faring, esofagus, lambung, dan usus. Namun demikian, struktur alat pencernaan
kadang kadang berbeda antara hewan yang satu dengan hewan yang lain.
Pada hewan
memamah biak, lambungnya terbagi menjadi 4 bagian, yaitu:
·
Rumen:
bagian lambung tempat penghancuran makanan secara mekanis
·
Retikulum:
bagian lambung tempat pencernaan selulosa oleh bakteri
·
Omasum:
bagian lambung tempat pencernaan secara mekanik
·
Abomasum:
bagian lambung tempat terjadinya pencernaan secara kimiawi dengan bantuan enzim
dan HCl yang dihasilkan oleh dinding abomasum.
Jadi makanan
dari kerongkongan akan masuk rumen yang berfungsi sebagai gudang sementara bagi
makanan yang tertelan. Di rumen terjadi pencernaan protein,polisakarida, dan
fermentasi selulosa oleh enzim selulase yang dihasilkan oleh bakteri dan jenis
protozoa tertentu. Dari rumen, makanan akan diteruskan ke retikulum dan di
tempat ini makanan akan dibentuk menjadi gumpalan-gumpalan yang masih kasar
(disebut bolus).
Bolus akan
dimuntahkan kembali ke mulut untuk dimamah kedua kali. Dari mulut makanan akan
ditelan kembali untuk diteruskan ke omasum. Pada omasum terdapat kelenjar yang
memproduksi enzim yang akan bercampur dengan bolus. Akhirnya bolus akan
diteruskan ke abomasum, yaitu perut yang sebenarnya dan di tempat ini masih
terjadi proses pencernaan bolus secara kimiawi oleh enzim.
B.
Sistem Pernapasan
1.
Pisces
a. Alat pernafasan pada ikan umumnya berupa insang
(branchia). Ada 2 macam bentuk insang:
Teleostei : insang yang mempunyai tutup insang
Elasmobranchii : tanpa tutup insang
Teleostei : insang yang mempunyai tutup insang
Elasmobranchii : tanpa tutup insang
b. Bagian-bagian insang:
1) Arcus branchialis (lengkung insang)
- Tampak memutih, terdiri dari jaringan tulang atau tulang rawan
- Terdapat rigi-rigi sepasang berguna untuk saringan air pernafasan
2) Hemibranchia (lembaran insang)
- Tampak berwarna merah, bangunan seperti sisir, terdiri dari jaringan lemak
- Mengandung banyak pembuluh darah (cabang arteria branchialis) sehingga terjadi pertukaran gas
3) Holobranchiae
- Pada tiap-tiap arcus branchialis melekat dua buah hemibranchia
1) Arcus branchialis (lengkung insang)
- Tampak memutih, terdiri dari jaringan tulang atau tulang rawan
- Terdapat rigi-rigi sepasang berguna untuk saringan air pernafasan
2) Hemibranchia (lembaran insang)
- Tampak berwarna merah, bangunan seperti sisir, terdiri dari jaringan lemak
- Mengandung banyak pembuluh darah (cabang arteria branchialis) sehingga terjadi pertukaran gas
3) Holobranchiae
- Pada tiap-tiap arcus branchialis melekat dua buah hemibranchia
c. Tiap lembaran insang terdiri dari sepasang filamen
yang banyak mengandung lamela (lapisan tipis). Pada filamen terdapat pembuluh
darah yang mengandung kapiler sehingga memungkinkan terjadinya pertukaran gas
O2 dan CO2.
d. Inspirasi : O2 dari air masuk ke dalam insang yang
kemudian diikat oleh kapiler darah untuk dibawa ke jaringan tubuh. Sedangkan
Ekspirasi : CO2 dari jaringan bersama darah menuju ke insang dan selanjutnya
dikeluarkan dari tubuh.
e. Ikan yang hidup di tempat berlumpur mempunyai labirin
yang merupakan perluasan insang berbentuk lipatan berongga tidak teratur.
Labirin berfungsi untuk menyimpan cadangan oksigen sehingga ikan tahan pada
kondisi kekurangan oksigen.
(Soewarsono, 1974; Sukaryanto, 2008)
(Soewarsono, 1974; Sukaryanto, 2008)
2.
Reptil
a. Jalanya udara pernafasan adalah sebagai berkut: rima
glotidis – laynx - trachea - broncus – pulmo.
b. Rima glottidis sebagai celah di belakang lingua menuju
ke ruang larynx.
c. Larynx dindingnya dibentuk oleh beberapa tulag rawan.
d. Trachea: Sebagai lanjutan larynx, terdapat di sebelah
ventral dari collum, didndingnya tersusun atas lingkaran-lingkaran tulang
rawan: annulus trachealis
di daerah thorax trachea bercabang menjadi 2 bronchus yang pendek (sinistum dan dextrum). Percabangan itu disebut: bifurcatio tracheae
di daerah thorax trachea bercabang menjadi 2 bronchus yang pendek (sinistum dan dextrum). Percabangan itu disebut: bifurcatio tracheae
e. Paru-paru reptilia berada dalam rongga dada dan
dilindungi oleh tulang rusuk. Paru-paru reptilia lebih sederhana, hanya dengan
beberapa lipatan dinding yang berfungsi memperbesar permukaan pertukaran gas.
Pada reptilia pertukaran gas tidak efektif. Pada kadal, kura-kura, dan buaya
paru-paru lebih kompleks, dengan beberapa belahan-belahan yang membuat
paru-parunya bertekstur seperti spon.
f. Pada kadal, kura-kura, dan buaya paru-paru lebih
kompleks, dengan beberapa belahanbelahan yang membuat paru-parunya bertekstur seperti
spon. Paru-paru pada beberapa jenis kadal misalnya bunglon Afrika mempunyai
pundi-pundi hawa cadangan yang memungkinkan hewan tersebut melayang di udara.
(Soewarsono,1974; Anonim, 2000)
(Soewarsono,1974; Anonim, 2000)
3.
Aves
a. Jalannya udara pernafasan adalah sebagai berikut:
nares anteriores
- cavum nasi - nares posteriores– laynx- broncus –brochiolus – pulmo.
b. Bagian-bagiannya:
- Nares anteriores (lubang hidung): sepasang, terdapat pada pangkal rostrum bagian dorsal.
- Nares posteriors: lubang pada palatum
- Larrynx: terdiri atas tulang rawan, membatasi suatu ruangan yang disebut glottidis
- Laryng dihubungkan dengan rongga mulut dengan perantara celah yag disebut rima glottidis
- Trachea: bentuk pipa, terdapat cincin tulang rawan ‘Annulus Trakhealis’
- Pulmo: sepasang seperti spons. Menempel pada dorsal thorax diantara costae. Dibungkus pleura
- Syrinx: pada Bifurcatio trakhealis
Tersusun daari 1 pasang annulus trakhealis caudal dan satu pasang annulus branchialis cranial. Membatasi ruangan yang agak melebar ‘Tympanium’ Pessulus: Merupakan tulang rawan melintang dari ventral ke dorsal, terletak pada daerah terkaudal trachea, menyokong lipatan membrane semilunaris.
- Nares anteriores (lubang hidung): sepasang, terdapat pada pangkal rostrum bagian dorsal.
- Nares posteriors: lubang pada palatum
- Larrynx: terdiri atas tulang rawan, membatasi suatu ruangan yang disebut glottidis
- Laryng dihubungkan dengan rongga mulut dengan perantara celah yag disebut rima glottidis
- Trachea: bentuk pipa, terdapat cincin tulang rawan ‘Annulus Trakhealis’
- Pulmo: sepasang seperti spons. Menempel pada dorsal thorax diantara costae. Dibungkus pleura
- Syrinx: pada Bifurcatio trakhealis
Tersusun daari 1 pasang annulus trakhealis caudal dan satu pasang annulus branchialis cranial. Membatasi ruangan yang agak melebar ‘Tympanium’ Pessulus: Merupakan tulang rawan melintang dari ventral ke dorsal, terletak pada daerah terkaudal trachea, menyokong lipatan membrane semilunaris.
- Pulmo pada
Cullumbia livia dan Gallus pulmo berhubungan dengan kantong udara
- Saccus Pneumaticus: Saccus cervicalis (sepasang di pangkal leher)
- Saccus Pneumaticus: Saccus cervicalis (sepasang di pangkal leher)
Saccus
interclavicularis (tunggal, coracoids)
Saccus
axillaris (percabangan dari saccus interclavikularis)
Saccus Thoracalis anterior (ruang dada bagian depan)
Saccus Thoracalis posterior (ruang dada bagian luar)
Saccus Abdominal (dilindungi oleh lingkaran intestinum)
(Soewarsono, 1974)
Saccus Thoracalis anterior (ruang dada bagian depan)
Saccus Thoracalis posterior (ruang dada bagian luar)
Saccus Abdominal (dilindungi oleh lingkaran intestinum)
(Soewarsono, 1974)
4.
Mamalia
a. Jalannya udara pernafasan:
nares
anteriores - cavum nasi - nares posteriores– laynx- broncus –brochiolus – pulmo
b. Bagian – bagiannya:
· Nares anteriores
· Cavum nasi
· Nares posteriors: lubang hidung dalam cavum
oris.
· Larynx: rongga di belakang pharynx diperkuat cartilago
– cartilago. Rongganya disebut auditus laryngis yang dihubungkan pharynx oleh
rima glotidis.
Diperkuat oleh tulang kartilago laring. Tulang penyusunnya: Epiglottis, Cartilago thyroidea, Cartilago, Arithenoidea, Cartilago Crycoidea.
Diperkuat oleh tulang kartilago laring. Tulang penyusunnya: Epiglottis, Cartilago thyroidea, Cartilago, Arithenoidea, Cartilago Crycoidea.
· Trachea: diperkuat Dengan annulus trachealis di
sebelah dorsal tidak menutup. Terletak di sebelah ventral esophagus. .
· Bronchus: trachea kemudian bercabang menjadi dua
(dexter dan sinister). Bronchus masuk ke pulmo bercabang – cabang menjadi
bronchiolus, bronchus respiratorius, ductus alveolaris, infundibulum, alveolus.
· Pulmo (dexter dan sinister): tiap lobus dimasuki oleh
bronchiolus.
(Frandson, 1992)
(Frandson, 1992)
Struktur mikroanatomi sistem pernafasan
a. Cavum Nasi
Terdiri atas
tiga bagian yakni : Regio vertibularis, regio respiratorius dan regio
olfaktorius.
· Regio vestibularis
Tunika
mukosa mengandung pigmen, dilapisi epithelium squomus komplek dengan korpus
papillare, banyak mengandung rambut yang berguna untuk menyaring udara. Dibawah
epithelium terdapat lamina propria dengan glandula serosa, dibawahnya terdapat
sub mukosa yang kaya akan vasa dan nervi. Pada Nares anteriores berubah menjadi
kulit luar. Pada kuda banyak mengandung rambut, glandula sebasea dan glandula
tubuler.
· Regio respiratorius
Pada regio
ini epithel squomus komplek berubah menjadi epitel kolumner komplek dan
kemudian menjadi epithel pseudo-komplek bersilia dengan beberapa sel piala.
Membrana basalis banyak mengandung serabut retikuler, pada lamina propria
banyak serabut elastis, banyak leukosit dan nodus limfatikus. Pada lamina
propria banyak ditemukan glandula tubulo-alveolar kebanyakan bersifat serosa,
tetapi ada juga yang bersifat mukosa dan campuran. Pada karnivora glandulanya
kecil dan sangat jarang. Sekresinya membuat udara respirasi lebih lembab. Sub
mukosa terdiri atas jaringan kolagen yang banyak mengandung pleksus venosus dan
bersifat erektil. Banyaknya pleksus venosus membantu memanasi udara inspirasi.
Sub mukosa berbatasan langsung dengan periosteum atau perikhondrium dari septum
nasi.
· Regio Olfaktorius
· Sel olfaktorius bersifat kapiler dan tersebar diantara
sel sustentakulum. nukleusnya berbentuk bulat Bagian apeks dari sel merupakan
modifikasi dari dendrit berupa prosessus yang berbentuk silindris dari nukleus
kepermukaan epithelium. Dibagian distal dari bagian ini sel menggembung dan
keluar lendir, bagian ini disebut Vesicula olfaktoria, dari sini keluarlah enam
sampai delapan buah silia olfaktoria. Silia ini bersifat non motil dan sangat
panjang, komponen dari organa sensorik yang dapat distimulasi dengan substansi
berbau. Membrana mukosa olfaktoria juga diinervasi saraf bermielin berasal dari
nervus trigeminus. Ujung saraf berakhir pada permukaan bebas pada sel
sustentakulum dan merupakan reseptor stimuli yang tak bersifat bau.
Lamina propria bersatu dengan periosteum, Lamina propria dan regio olfaktorius banyak mengandung glandula olfaktoria tubulo alveolar bercabang. Sinus paranasalis dilapisi dengan membrana mukosa, glandula sedikit dan bersifat serosa. Glandula nasi lateralis tidak ditemukan pada manusia dan sapi. Mukosa dari duktus insisivus sebagian diliputi dengan kartilago hialin yang padat. Banyak ditemukan glandula tubuler yang bersifat serosa dan campuran, leukosit dan nodulus limfatikus.
Lamina propria bersatu dengan periosteum, Lamina propria dan regio olfaktorius banyak mengandung glandula olfaktoria tubulo alveolar bercabang. Sinus paranasalis dilapisi dengan membrana mukosa, glandula sedikit dan bersifat serosa. Glandula nasi lateralis tidak ditemukan pada manusia dan sapi. Mukosa dari duktus insisivus sebagian diliputi dengan kartilago hialin yang padat. Banyak ditemukan glandula tubuler yang bersifat serosa dan campuran, leukosit dan nodulus limfatikus.
1) Cavum Nasi Burung
Mukosa
olfaktoriusnya mirip dengan mamalia. Cavum nasi berhubungan dengan kavum oris
melalui choanae, mukosa dilapisi epithel pseudokomplek bersilia dengan sel
piala, lamina propria tidak banyak terdapat limfosit. Epithelium dari regio
respiratorius berubah menjadi epitel squamus komplek dari kavum oris pada tepi
choanae. Glandula nasi lateralis terdapat pada os. frontale dekat khantus
medialis mata. Produknya dikeluarkan didalam cavum nasi dan menjaga supaya lubang
hidung tidak kering pada waktu terbang.
2) Sinus Paranasalis
Merupakan
sinus tambahan dari kavum nasi terdiri atas sinus frontalis, ethnoidalis,
spenoidalis dan maxillaris. Epithelium pseudokomplek bersilia dengan sel piala,
sedikit mengandung glandula. Silia bergerak menghilangkan benda asing ataupun
mukus kering ke kavum nasi. Mukosanya melekat erat ke periosteum.
b. Faring
·
Terdiri atas
pars respiratoria (nasofaring) dan pars digestoria (orofaring). Dinding dorsal
palatum molle terdiri atas mukosa dan tulang, sedangkan dinding faring dibentuk
oleh mukosa, fasia pharingea interna, otot serat lintang fasia faringea
eksterna dan tunika adventitia yang bersifat longgar.
·
Nasofaring
dilapisi epithelium pseudokompleks bersilia, orofaring dengan epitel squamus
komplek. Lamina propria orofaring terdiri atas jaringan fibroelastis, banyak
mengandung glandula mukosa serta mempunyai banyak jaringan limfatik. Pada
nasofaring umumnya bersifat muko-serosa fasia paringea interna terdiri dari
serabut longitudinal dan sirkuler yang tebal. Dinding faring banyak mengandung
pembuluh darah dan limfe. Pembuluh limfe ini berhubungan dengan pembuluh limfe
kavum nasi. Serabut saraf membentuk pleksus superfisial dan profundal.
c. Laring
·Tersusun atas kartilago hialin dan elastis yang
membentuk tabung panjang dan kurang teratur, dilapisi oleh jaringan ikat, otot
serat lintang dan membrana mukosa dengan glandula. Merupakan penghubung faring
dan trakhea. Rangka laring tersusun dari beberapa kartilago thiroidea,
krikoidea dan epiglotis bersifat tunggal, sedangkan kartilago aritenoidea,
kornikulata dan kuniformis sepasang. Otot internal berkontraksi menyebabkan
bentuk cavum laring berubah-ubah dan mempengaruhi produksi suara.
·
Lamina
propria dibentuk oleh jaringan ikat dengan banyak serabut elastis, banyak
ditemukan jaringan limfoid dengan nodulus limfatikus dan glandula yang bersifat
serosa, mukosa dan campuran. Nodulus limfatikus banyak ditemukan pada sapi dan
kemudian berkurang jumlahnya pada kuda, babi dan karnivora.
·
Sub-mukosa
tipis, dibawahnya terdapat lapisan otot serat lintang. Pada ruminansia tidak
ditemukan sakulus laringis. Pada kuda bagian ini dilapisi epitel pseudokompleks
bersilia, pada babi dan karnivora oleh epitel squamus komplek.
d. Trakea
Struktur
histologi trakea terdiri atas :
·
Tunika mukosa
terdiri atas epitel pseudo-komplek bersilia dengan membrana basalis, lamina
propria, lapisan serabut elastis longitudinal.
·
Sub mukosa
dengan glandula, membrana fibro-elastis dengan cincin kartilago.
·
Lapisan otot
yang hanya ditemukan di bagian dorsal dan
·
Tunika
adventitia.
Banyak
ditemukan sel piala dan leukosit. Gerak silia kearah hidung berguna untuk
mengusir partikel debu. Banyak hewan mempunyai membrana basalis rudimenter.
Lamina propria terdiri atas serabut halus dengan banyak limfosit.
Pembatas
sub-mukosa adalah membrana fibroelastis dan melekat pada perikhondrium cincin
kartilago. Bagian provundal dari lamina propria dan submukosa mengandung banyak
glandula tubuler campuran terutama banyak ditemukan dibagian ventral dan
lateral. Pada biri-biri, nodulus limfatikus ditemukan pada mukosa. Cincin
kartilago dibungkus oleh membran fibrosa.
Tunika
muskularis disusun atas muskulus transversus trakhea berupa otot polos dengan
arah melintang pada bagian dorsal. Pada kuda ruminansia dan babi terletak
sebelah medial ujung cincin . Tunika adventitia terdiri atas serabut elastis
dan kolagen yang longgar dengan banyak jaringan lemak, vasa dan nervi.
1) Trakea Burung
Kartilago
berupa cincin yang sempurna. Pada burung air, banyak mengalami osifikasi.
Epitheliumnya adalah epithel pseudo-komplek bersilia yang banyak membantu
kripte seperti mukosa kavum nasi. Lamina propria banyak limfosit.
2) Pulmo
Struktur
pulmo mirip dengan glandula alveolar komplek. Terletak dalam kavum thorax.
Pulmo disusun rangka penyokong berupa kapsula dan jaringan ikat interstitialis,
bagian konduksi dalam pulmo dan bagian respirasi. Kapsula pulmo berupa membrana
serosa yang disebut pleura viseralis, kapsula memiliki banyak serabut otot
polos. Pada sapi kapsula ini paling tebal sedangkan karnivora paling tipis.
Lapisan superfisial dibatasi oleh mesothelium. Pulmo terbagi atas lobus,
sedangkan lobus dibagi menjadi lobulus oleh jaringan ikat tipis yang disebut
septa. Lobulus berbentuk piramid. Tiap lobulus menerima cabang dari bronkhus
primarius (cabang dari trakhea) sedangkan lobulus menerima bronkhiolus kecil.
3) Bronkhus
Trakhea
bercabang menjadi dua (bronkhus primarius). Tiap bronkhus primarius bercabang
sesuai dengan jumlah lobi. Bronkhus masuk ke dalam pulmo melalui hilus, cabang
bronkhus primarius yang masuk kedalam lobulus disebut bronkhiolus. Dibandingkan
dengan bronkhus maka bronkhiolus lebih kecil (diameter kurang dari satu mm)
epitheliumnya kolumner bersilia, dan tidak mempunyai kartilago.
Makin kecil ukuran bronkhi atau bronkhioli maka lapisan dinding makin tipis, tetapi lapisan otot polosnya masih tetap ditemukan sebagai komponen yang menjolok, bahkan masih tetap ditemukan pada dinding yang membatasi duktus alveolaris.
Makin kecil ukuran bronkhi atau bronkhioli maka lapisan dinding makin tipis, tetapi lapisan otot polosnya masih tetap ditemukan sebagai komponen yang menjolok, bahkan masih tetap ditemukan pada dinding yang membatasi duktus alveolaris.
4) Bagian Respirasi dari Pulmo
Lobulus
primarius: unit fungsional dari pulmo, disusun atas bronkhiolus respiratorius
termasuk duktus alveolaris, sakus alveolaris, alveoli, vasa, saluran limfe,
nervi dan jaringan ikat.
Bagian respirasi tampak sebagai bangunan, berupa ruang dan dipisahkan oleh septa dengan dinding tipis. Diberbagai tempat ditemukan bronkhi dengan dinding tebal serta arteri dan vena dengan ukuran yang bervariasi. Beberapa alveoli muncul dari dinding bronkhiolus respiratorius. Suatu prosessus sitoplasmatik dari epithelium bronkhiolus respiratorius dan melanjutkan diri ke dinding alveolus.
Bagian respirasi tampak sebagai bangunan, berupa ruang dan dipisahkan oleh septa dengan dinding tipis. Diberbagai tempat ditemukan bronkhi dengan dinding tebal serta arteri dan vena dengan ukuran yang bervariasi. Beberapa alveoli muncul dari dinding bronkhiolus respiratorius. Suatu prosessus sitoplasmatik dari epithelium bronkhiolus respiratorius dan melanjutkan diri ke dinding alveolus.
Duktus
alveolaris: percabangan dari bronkhiolus respiratorius. Sakus alveolaris
berbentuk polihedral dan hanya terbuka pada sisi yang menghadap ke duktus
alveolaris. Mulut sakus alveolaris disokong dengan serabut elastis, kolagen dan
otot polos
Dari duktus
alveolaris muncul satu alveolus dan sakus alveolaris dengan dua sampai empat
alveoli, alveoli berbentuk kantong polihedral yang satu sisinya hilang,
sehingga udara dapat berdifusi secara bebas melalui duktus alveolaris. Sakus
alveolaris masuk kedalam alveoli. Dinding alveolus banyak mengandung serabut
retikuler dan serabut elastis dalam jumlah lebih sedikit. Kedua macam serabut
ini merupakan rangka dinding yang cukup kuat dari kantung hawa yang dikelilingi
kapiler.
(Dellman, 1992)
(Dellman, 1992)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar