Minggu, 08 Desember 2013

BIOLOGI




Sistem Pencernaan dan Pernapasan
A.     Sistem Pencernaan
1.      Sistem Pencernaan Pisces
a.       Mulut
Bagian terdepan dari mulut adalah bibir, pada ikan-ikan tertentu bibir tidak berkembng dan malahan hilang secara total karena digantikan oleh paruh atau rahang (ikan famili scaridae, diodotidae, tetraodontidae). Pada ikan belanak atau tambakan, bibir berkembang dengan baik dan menebal, bahkan mulutnya dapat disembulkan.
b.      Rongga mulut
Di bagian belakang mulut terdapat ruang yang disebut rongga mulut. Rongga mulut ini berhubungan langsung dengan segmen faring. Secara anatomis organ yang terdapat pada rongga mulut adalah gigi, lidah dan organ palatin. Permukaannya dilapisi epitelium berlapis, terdapat sel-sel penghasil lendir untu mempermudah masuknya makanan, dan terdapat organ pengecap.
c.       Faring
Lapisan permukaan faring hampir sama dengan rongga mlut, masih ditemukan organ pengecap, Sebagai tempat proses penyaringan makanan.
d.      Esofagus
Permulaan dari saluran pencernaan yang berbentuk seperti pipa, mengandung lendir untuk membantu penelanan makanan. Pada ikan laut, esofagus berperan dalam penyerapan garam melalui difusi pasif menyebabkan konsentrasi garam air laut yang diminum akan menurun ketika berada di lambung dan usus sehingga memudahkan penyerapan air oleh usus belakang dan rectum (proses osmoregulasi).
e.       Lambung
Lambung merupakan segmen pencernaan yang diameternya relatif lebih besar bila dibandingkan dengan organ pencernaan yang lain. Besarnya ukuran lambung berkaitan dengan fungsinya sebagai penampung makanan. Seluruh permukaan lambung ditutupi oleh sel mukus yang mengandung mukopolisakarida yang agak asam berfungsi sebagai pelindung dinding lambung dari kerja asam klorida. Sebagai penampung makanan dan mencerna makanan secara kimiawi
f.       Usus ( intestinum)
Merupakan segmen yang terpanjang dari saluran pencernaan. Intestinum berakhir dan bermuara keluar sebagai anus. Merupakan tempat terjadinya proses penyerapan zat makanan
g.      Rektum
Segmen saluran pencernaan yang terujung. Secara anatomis sulit dibedakan batas antara usus dengan rektum. Namun secara histologis batas antara kedua segmen tersebut dapat dibedakan dengan adanya katup rektum.
h.      Kloaka
Kloaka adalah ruang tempat bermuaranya saluran pencernaan dan saluran urogenital. Ikan bertulang sejati tidak memiliki kolaka, sedangkan ikan bertulang rawan memiliki organ tersebut.
i.        Anus
Anus merupakan ujung dari saluran pencernaan. Pada ikan bertulang sejati anus terletak di sebelah depan saluran genital. Pada ikan yang bentuk tubuhnya memanjang, anus terletak jauh dibelakang kepala bedekatan dengan pangkal ekor. Sedangkan ikan yang tubuhnya membundar, posisi anus terletak jauh di depan pangkal ekor mendekati sirip dada.

Kelenjar Pencernaan
Kelenjar pencernaan berguna untuk menghasilkan enzim pencernaan yang nantinya akan bertugas membantu proses penghancuran makanan. Enzim pencernaan yang dihasilkan oleh ikan buas juga berbeda dengan ikan vegetaris.
Hati meupakan organ penting yang mensekresikan bahan untuk proses pencernaan. Secara umum hati berfungsi sebagi tempat metabolisme karbohidrat, lemak dan protein serta tempat memproduksi cairan empedu.
Pankreas merupakan organ yang mensekresikan bahan (enzim) yang berperan dalam proses pencernaan. Pankreas ada yang berbentuk kompak dan ada yang diffus (menyebar) di antara sel hati.

Proses Pencernaan
Sebelum makanan di sambar dan ditelan, terlebih dahulu telah menimbulkan rangsangan berupa nafsu untuk makan. Nafsu untuk makan ini dapat dirangsang melalui penglihatan, bau dan rabaan. Begitu ada nafsu untuk makan, maka alat-alat pencernaanya segera bersiap-siap untuk menerima makanan dan selanjutnat mencernakannya. Setelah makanan digigit, untuk menelannya diperlukan bahan pelicin yaitu air liur. Selai sebagai pelicin, air liur juga mengandung enzim ptialin yang merupakan enzim pemecah karbohidrat menjadi maltosa yang kemudaian dilanjutkan menjadi glukosa. Tapi karena ikan tidak mengunyah makanan, padahal pemecahan karbohidrat membutuhkan waktu yang lama, maka ptialinnya baru dapat bekerja aktif setelah makanan sampai di lambung. Selain mengandung enzim ptialin, air liur juga mengandung senyawa penyangga derajat keasaman (bufer) yang berguna untuk memecah terjadinya penurunan pH agar proses pencernaan dapat berjalan normal.
Apabila makanan telah masuk ke dalam saluran pencernaan, maka dindng saluran pencernaannya akan terangsang untuk menghasilkan hormon gastrin. Hormon ini akan memacu pengeluaran asam klorida (HCL) dan pepsinogen. HCL akan mengubah pepsinogen menjadi pepsin yang merupakan enzim pencernaan akif, yaitu sebagai pemecah protein menjadi pepton (polipeptida). Apabila makanannya banyak mengandung lemak, maka akan dihasilkan juga hormon entergastron.
Di dalam usus, makanan itu sendiri akan merangsang keluarnya hormon kolsistokinin. Hormon ini kemudian akan memacu keluarnyagetah empedu dari hati. Getah empedu itu sebenarnya dibuat dari sel-sel darah merah yang telah rusak di dalam hati. Pengeluaran getah empedu tersebut melalui pembuluh hepatikus yang kemidaian ditampung di dalam kantong empedu. Fungsi getah empedu tersebut adalah memeperhalus butiran-butiran lemak menjadi emulsi sehingga mudah larut dalam air dan diserap oleh usus.
Dinding usus juga mengeluarkan hormon sekretin dan pankreozinin. Sekretin akan memacu pengeluaran getah empedu dan pankreas. Getah penkreas ini mengandung enzim amilase, lipase dan protase. Sedangkan hormon pankreozinin menyebabkan rangsangan untuk mempertinggi produksi getah pankreas.
Enzim amilase akan memecah karbohidrat menjadi glukosa. Enzim lipase memecah lemak menjadi asam lemak dan gliserol. Sedangkan protase memecah protein menjadi asam amino. Ketiga enzim tersebut dapat mencapai puncak keaktifan apabila kadar protein dalam makanan antara 40-60%. Apabila kadar proteinnya berubah maka untuk mencapai puncak keaktifan, enzim-enzim tersebut membutuhkan waktu untuk menyseuaikan diri.
2.      Sistem Pencernaan Reptil
System pencernaan pada reptile terdiri atas saluran pencernaan dan kelenjar  pencernaan. Reptile pada umumnya terdiri atas saluran pencernaan dan kelnejar  pencernaan. Pada umumnya reptile adalah karnivora (pemakan daging). Saluran pencernaannya terdiri dari mulut, kerongkongan, lambung, usus dan kloaka. Dan kelenjar pencernaannya terdiri atas kelenjar ludah, pancreas dan hati.
a.       Rongga Mulut
Mulut yang dapat terbuka lebar memiliki dentes (gigi-gigi) yang berfungsi untuk keperluan ofensif dan mempertahankan serta mengunyah mangsanya. Barisan gigi itu dapat dibedakan atas dua deretan .deretan gigi yang conisch (bentuk kerucut) menempel pada rahang, dan gigi pleurodont, bengkok kea rah cavum oris. Pada palatum (langit-langit) terdapat deretan gigi halus yang disebut dentes palatine.  Rongga mulut Disokong oleh rahang atas dan rahang bawah. Dan khusus pada ular berbisaakan tumbuh gigi yang dapat menghasilkan racun yang terdapat pada ronggamulut. Pada buaya giginya bisa mnegalami 50 kali pergantian. Pada umumnya reptil tidak mengunyah makanannya jadi giginya berfungsi sebagai penangkap mangsa. Pada rongga mulut terdapat lidah yang pipih dan melekat pada tulang lidah dengan ujung bercabang dua atau bersifat bipida yang terletak di dasar cavum oris.
b.              Kerongkongan (esophagus)
Merupakan saluran di belakang rongga mulut yang menyalurkan makanan dari rongga mulut ke lambung. Di dalam esophagus tidak terjadi proses pencernaan.
c.       Lambung (ventrikulus)
Terdiri atas bagian yang agak bulat yaitu fundus dan agak kecil yatu piloris. Lambung merupakan tempat penampungan makanan dan pencernaan makanan berupa saluran pencernaan yang membesar dibelakang esophagus.
d.      Intestinum
Terdiri dari usus halus dan usus tebal yang bermuara pada anus. Dalam usus halus terjadi proses penyerapan dan sisanya menuju ke rectum, kemudian   diteruskan ke kloaka untuk dibuang.
Kelenjar pencernaan, terdiri atas hati dan pancreas. Empedu yang dihasilkan oleh hati ditampung di dalam kantong yang disebut vesica fellea. Hati tediri dari dualobus yaitu sinister dan dexter yang berwarna coklat kemerahan. Kantong empedu terletak pada tepi sebelah kanan hati. Pancreas pada reptile terletak diantaralambung dan duodenum. Pancreas berbentuk pipih dan berwarna kekuning-kuningan.

3.      Sistem Pencernaan Aves
Sistematis pencernaan makanan pada burung :
Mulut / paruh → Kerongkongan → Tembolok → Lambung kelenjar →
Lambung pengunyah → Hati → Pankreas → Usus halus → Usus besar →
Usus buntu → Poros usus (rectum) → Kloaka.
Fungsi Organ Pencernaan Pada Aves:
a.       Paruh : Mengambil makanan.
b.      Kerongkongan : Saluran makanan menuju tembolok
c.       Tembolok : Menyimpan makanan sementara.
d.      Lambung kelenjar : Mencerna makanan secara kimiawi.
e.       Lambung pengunyah : Menghancurkan makanan.
f.       Hati : Membantu mancerna makanan secara mekanis.
g.      Pankreas : Menghasilkan enzim.
h.      Usus halus : Tempat pencernaan sari makanan yang diserap oleh kapiler darah pada dinding usus halus.
i.        Usus besar : Saluran sisa makan ke rectum.
j.        Usus buntu : Memperluas daerah penyerapan sari makanan.
k.      Poros usus : Tempat penyimpan sisa makanan sementara.
l.        Kloaka : Muara 3 (tiga) saluran,yaitu :
- Pencernaan usus.
- Saluran uretra dari ginjal
- Saluran kelamin
Pada mulut terdapat paruh yang sangat kuat dan berfungsi untuk mengambil makanan. Makanan yang diambil oleh paruh kemudian masuk kedalam rongga mulut lalu menuju kerongkongan. Bagian bawah kerongkongan membesar berupa kantong yang disebut tembolok.Kemudian masuk ke lambung kelenjar. Disebut lambung kelenjar karena dindingnya mengandung kelenjar yang menghasilkan getah lambung yang berfungsi untuk mencerna makan secara kimiawi. Kemudian makan masuk menuju lambung pengunyah. Disebut lambung pengunyah karena dindingnya mengandung otot-otot kuat yang berguna untuk menghancurkan makanan. Didalam hati,empedal sering terdapat batu kecil atau pasir untuk membantu mencerna makanan secara mekanis. Kemudian, makanan masuk menuju usus halus. Enzim yang dihasilkan oleh pankreas dan empedu dialirkan kedalam usus halus. Hasil pencernaan berupa sari-sari makanan diserap oleh kapiler darah pada dinding usus halus.Burung mempunyai dua usus buntu yang terletak antara lambung dan usus.Usus buntu berguna untuk memperluas daerah penyerapan sari makanan. Sisa makanan didorong ke usus besar kemudian kedalam poros usus (rektum) dan akhirnya dikeluarkan melalui kloaka.
4.      Sistem Pencernaan Pada Mamalia
a.       Manusia
1)      Mulut
Suatu rongga terbuka tempat masuknya makanan dan air pada hewan. Mulut biasanya terletak di kepala dan umumnya merupakan bagian awal dari sistem pencernaan lengkap yang berakhir di anus.
Bagian-bagian yang terdapat dalam mulut:
·         Gigi (dens)
·         Lidah (lingua) adalah kumpulan otot rangka pada bagian lantai mulut yang dapat membantu pencernaan makanan dengan mengunyah dan menelan. Berfungsi untuk:
Ø  sebagai indera pengecap/perasa
Ø  mengaduk makanan di dalam rongga mulut
Ø  membantu proses penelanan
Ø  membantu membersihkan mulut
Ø  membantu bersuara/berbicara
·       Ludah (saliva) dihasilkan oleh kelenjar ludah
2)      Esofagus/Kerongkongan
Esofagus adalah tabung (tube) berotot pada vertebrata yang dilalui sewaktu makanan mengalir dari bagian mulut ke dalam lambung. Makanan berjalan melalui esofagus dengan menggunakan proses peristaltik.
3)      Lambung
Lambung atau ventrikulus berupa suatu kantong yang terletak di bawah sekat rongga badan. Fungsi lambung secara umum adalah tempat di mana makanan dicerna dan sejumlah kecil sari-sari makanan diserap. Lambung dapat dibagi menjadi tiga daerah, yaitu daerah kardia, fundus dan pilorus. Kardia adalah bagian atas, daerah pintu masuk makanan dari kerongkongan . Fundus adalah bagian tengah, bentuknya membulat. Pilorus adalah bagian bawah, daerah yang berhubungan dengan usus 12 jari duodenum.
Dinding lambung tersusun menjadi empat lapisan, yakni mucosasubmucosamuscularis, dan serosaMucosa ialah lapisan dimana sel-sel mengeluarkan berbagai jenis cairan, seperti enzim, asam lambung, dan hormon. Lapisan ini berbentuk seperti palung untuk memperbesar perbandingan antara luas dan volume sehingga memperbanyak volume getah lambung yang dapat dikeluarkan. Submucosa ialah lapisan dimana pembuluh darah arteri dan vena dapat ditemukan untuk menyalurkan nutrisi dan oksigen ke sel-sel perut sekaligus untuk membawa nutrisi yang diserap, urea, dan karbon dioksida dari sel-sel tersebut. Muscularis adalah lapisan otot yang membantu perut dalam pencernaan mekanis. Lapisan ini dibagi menjadi 3 lapisan otot, yakni otot melingkar, memanjang, dan menyerong. Kontraksi dan ketiga macam lapisan otot tersebut mengakibatkan gerak peristaltik (gerak menggelombang). Gerak peristaltik menyebabkan makanan di dalam lambung diaduk-aduk. Lapisan terluar yaitu serosa berfungsi sebagai lapisan pelindung perut. Sel-sel di lapisan ini mengeluarkan sejenis cairan untuk mengurangi gaya gesekan yang terjadi antara perut dengan anggota tubuh lainnya.
4)      Usus
Usus halus atau usus kecil adalah bagian dari saluran pencernaan yang terletak di antara lambung dan usus besar. Usus halus dibagi menjadi 3 bagian, yaitu :
·         Usus dua belas jari (bahasa Inggris: duodenum) adalah bagian dari usus halus yang terletak setelah lambung dan menghubungkannya ke usus kosong (jejunum).Di bagian ini terdapat beberapa enzim yang sangat di butuhkan dalam proses pencernaan, antara lain :
Ø  Enterokinase, untuk mengaktifkan tripsinogen yang dihasilkan pankreas;
Ø  Erepsin atau dipeptidase, untuk mengubah dipeptida atau pepton menjadi asam amino;
Ø  Laktase, mengubah laktosa menjadi glukosa;
Ø  Maltase, berfungsi mengubah maltosa menjadi glukosa;
Ø  Disakarase, mengubah disakarida menjadi monosakarida;
Ø  Peptidase, mengubah polipeptida menjadi asam amino;
Ø  Lipase, mengubah trigliserida menjadi gliserol dan asam lemak;
Ø  Sukrase, mengubah sukrosa menjadi fruktosa dan glukosa.
·         Usus kosong atau jejunum (terkadang sering ditulis yeyunum) adalah bagian kedua dari usus halus, di antara usus dua belas jari (duodenum) dan usus penyerapan (ileum). Pada manusia dewasa, panjang seluruh usus halus antara 2-8 meter, 1-2 meter adalah bagian usus kosong.
·         Usus penyerapan (bahasa Inggris: ileum) adalah bagian terakhir dari usus halus. Pada sistem pencernaan manusia, )duodenum dan jejunum, dan dilanjutkan oleh usus buntu. Ileum memiliki pH antara 7 dan 8 (netral atau sedikit basa) dan berfungsi menyerap vitamin B12 dan garam-garam empedu. Ileum memiliki panjang sekitar 2-4 m.
5)      Anus
Proses pengeluaran sisa – sisa makanan melalui anus.
Glandula digestoria (kelenjar pencernaaan) :
·         Glandula salivarae kelenjar ludah
·         Glandula mucosae : terdapat pada dinding sebelah dalam dari ventriculus dan intestinum (terutama intestinum tenue)
·         Hepar (hati) : suatu kelenjar yang besar berwarna kecoklat-coklatan, terbagi atas beberapa lobi. Dari tiap lobi terdapat ductus hepaticus yang mengeluarkan sekresi ke vesica vellea (kantong empedu)
·         Pancreas : kelenjar ini terletak antara pars ascendens dan pars descendens dari duodenum berwarna merah muda, bersaluran yang disebut ductus pancreaticus yang akhirnya bersatu dengan ductus cysticus membentuk ductus cholidocus. Saluran yang terakhir itu akan menuangkan sekresinya ke duodenum. Kecuali itu pada pancreas terdapat sel yang disebut insulae langerhensi (island of langerheng) menghasilkan sekresi (hormone) berupa insulin yang berlangsung masuk pembuluh darah.
b.      Hewan
Hewan memamah biak ( Ruminantia ) adalah sekumpulan hewan pemakan tumbuhan yang mencerna makanannya dalam dua langkah:
·         Dengan menelan bahan mentah
·         Mengeluarkan makanan yang sudah setengah dicerna dan mengunyahnya lagi.
·         Lambung hewan-hewan ini tidak hanyamemiliki satu ruang ( monogastrik) tetapi lebih dari satu ruang ( poligastrik ), atau secara umum bisa dikatakan berperut banyak
Perbedaan antara hewan ruminansia dengan mamalia lainnya Terlihat pada susunan dan fungsi gigi serta lambung.
Hal ini berkaitan dengan jenis makanannya.
·         Gigi geraham (premolare & molare) sangat besar,kuat, bergelombang seperti papan pencuci. Serta berfungsi untuk menggiling dan menggilas dinding seltumbuhan yg dimakan.
·         Gigi seri berbentuk seperti kapak, berfungsi untukmenjepit dan memotong makanan.
·         Antara gigi seri dan geraham terdapat rongga yangdisebut diastema
Memiliki 4 ruangan lambung, yaitu :
·         Rumen atauperut besar (berisi bakteri dalam cairan alkali)
·         Retikulum (perut jala)
·         Omasum (perut masam)
·         Abomasum atau perut kitab (merupakan lambungyang sesungguhnya). contoh hewan ruminansia adalah sapi, dll.
Struktur khusus sistem pencernaan hewan ruminansia :
·         Gigi seri (Insisivus) memiliki bentuk untuk menjepit makanan berupa tetumbuhan seperli rumput.
·         Geraham belakang (Molare) memiliki bentuk datar dan lebar.
·         Rahang dapat bergerak menyamping untuk menggiling makanan.
·         Struktur lambung memiliki empat ruangan, yaitu: Rumen (fermentor), Retikulum, Omasum dan Abomasum ( Lambung yang sebenarnya sehingga terjadi pencernaan enzimatis).
Pola sistem pencernaan pada hewan umumnya sama dengan manusia, yaitu terdiri atas mulut, faring, esofagus, lambung, dan usus. Namun demikian, struktur alat pencernaan kadang kadang berbeda antara hewan yang satu dengan hewan yang lain.
Pada hewan memamah biak, lambungnya terbagi menjadi 4 bagian, yaitu:
·         Rumen: bagian lambung tempat penghancuran makanan secara mekanis
·         Retikulum: bagian lambung tempat pencernaan selulosa oleh bakteri
·         Omasum: bagian lambung tempat pencernaan secara mekanik
·         Abomasum: bagian lambung tempat terjadinya pencernaan secara kimiawi dengan bantuan enzim dan HCl yang dihasilkan oleh dinding abomasum.
Jadi makanan dari kerongkongan akan masuk rumen yang berfungsi sebagai gudang sementara bagi makanan yang tertelan. Di rumen terjadi pencernaan protein,polisakarida, dan fermentasi selulosa oleh enzim selulase yang dihasilkan oleh bakteri dan jenis protozoa tertentu. Dari rumen, makanan akan diteruskan ke retikulum dan di tempat ini makanan akan dibentuk menjadi gumpalan-gumpalan yang masih kasar (disebut bolus).
Bolus akan dimuntahkan kembali ke mulut untuk dimamah kedua kali. Dari mulut makanan akan ditelan kembali untuk diteruskan ke omasum. Pada omasum terdapat kelenjar yang memproduksi enzim yang akan bercampur dengan bolus. Akhirnya bolus akan diteruskan ke abomasum, yaitu perut yang sebenarnya dan di tempat ini masih terjadi proses pencernaan bolus secara kimiawi oleh enzim.

B.     Sistem Pernapasan
1.      Pisces
a.   Alat pernafasan pada ikan umumnya berupa insang (branchia). Ada 2 macam bentuk insang:
Teleostei : insang yang mempunyai tutup insang
Elasmobranchii : tanpa tutup insang
b.   Bagian-bagian insang:
1) Arcus branchialis (lengkung insang)
- Tampak memutih, terdiri dari jaringan tulang atau tulang rawan
- Terdapat rigi-rigi sepasang berguna untuk saringan air pernafasan
2) Hemibranchia (lembaran insang)
- Tampak berwarna merah, bangunan seperti sisir, terdiri dari jaringan lemak
- Mengandung banyak pembuluh darah (cabang arteria branchialis) sehingga terjadi pertukaran gas
3) Holobranchiae
- Pada tiap-tiap arcus branchialis melekat dua buah hemibranchia
c.   Tiap lembaran insang terdiri dari sepasang filamen yang banyak mengandung lamela (lapisan tipis). Pada filamen terdapat pembuluh darah yang mengandung kapiler sehingga memungkinkan terjadinya pertukaran gas O2 dan CO2.
d.   Inspirasi : O2 dari air masuk ke dalam insang yang kemudian diikat oleh kapiler darah untuk dibawa ke jaringan tubuh. Sedangkan Ekspirasi : CO2 dari jaringan bersama darah menuju ke insang dan selanjutnya dikeluarkan dari tubuh.
e.   Ikan yang hidup di tempat berlumpur mempunyai labirin yang merupakan perluasan insang berbentuk lipatan berongga tidak teratur. Labirin berfungsi untuk menyimpan cadangan oksigen sehingga ikan tahan pada kondisi kekurangan oksigen.
(Soewarsono, 1974; Sukaryanto, 2008)
2.      Reptil
a.    Jalanya udara pernafasan adalah sebagai berkut: rima glotidis – laynx - trachea - broncus – pulmo.
b.   Rima glottidis sebagai celah di belakang lingua menuju ke ruang larynx.
c.    Larynx dindingnya dibentuk oleh beberapa tulag rawan.
d.   Trachea: Sebagai lanjutan larynx, terdapat di sebelah ventral dari collum, didndingnya tersusun atas lingkaran-lingkaran tulang rawan: annulus trachealis
di daerah thorax trachea bercabang menjadi 2 bronchus yang pendek (sinistum dan dextrum). Percabangan itu disebut: bifurcatio tracheae
e.    Paru-paru reptilia berada dalam rongga dada dan dilindungi oleh tulang rusuk. Paru-paru reptilia lebih sederhana, hanya dengan beberapa lipatan dinding yang berfungsi memperbesar permukaan pertukaran gas. Pada reptilia pertukaran gas tidak efektif. Pada kadal, kura-kura, dan buaya paru-paru lebih kompleks, dengan beberapa belahan-belahan yang membuat paru-parunya bertekstur seperti spon.
f.    Pada kadal, kura-kura, dan buaya paru-paru lebih kompleks, dengan beberapa belahanbelahan yang membuat paru-parunya bertekstur seperti spon. Paru-paru pada beberapa jenis kadal misalnya bunglon Afrika mempunyai pundi-pundi hawa cadangan yang memungkinkan hewan tersebut melayang di udara.
(Soewarsono,1974; Anonim, 2000)
3.      Aves
a.   Jalannya udara pernafasan adalah sebagai berikut:
nares anteriores - cavum nasi - nares posteriores– laynx- broncus –brochiolus – pulmo.
b.   Bagian-bagiannya:
- Nares anteriores (lubang hidung): sepasang, terdapat pada pangkal rostrum bagian dorsal.
- Nares posteriors: lubang pada palatum
- Larrynx: terdiri atas tulang rawan, membatasi suatu ruangan yang disebut glottidis
- Laryng dihubungkan dengan rongga mulut dengan perantara celah yag disebut rima glottidis
- Trachea: bentuk pipa, terdapat cincin tulang rawan ‘Annulus Trakhealis’
- Pulmo: sepasang seperti spons. Menempel pada dorsal thorax diantara costae. Dibungkus pleura
- Syrinx: pada Bifurcatio trakhealis
Tersusun daari 1 pasang annulus trakhealis caudal dan satu pasang annulus branchialis cranial. Membatasi ruangan yang agak melebar ‘Tympanium’ Pessulus: Merupakan tulang rawan melintang dari ventral ke dorsal, terletak pada daerah  terkaudal trachea, menyokong lipatan membrane semilunaris. 
- Pulmo pada Cullumbia livia dan Gallus pulmo berhubungan dengan kantong udara
- Saccus Pneumaticus: Saccus cervicalis (sepasang di pangkal leher)
Saccus interclavicularis (tunggal, coracoids)
Saccus axillaris (percabangan dari saccus interclavikularis)
Saccus Thoracalis anterior (ruang dada bagian depan)
Saccus Thoracalis posterior (ruang dada bagian luar)
Saccus Abdominal (dilindungi oleh lingkaran intestinum)
(Soewarsono, 1974) 
4.      Mamalia
a.   Jalannya udara pernafasan:
nares anteriores - cavum nasi - nares posteriores– laynx- broncus –brochiolus – pulmo
b.   Bagian – bagiannya:
·      Nares anteriores
·      Cavum nasi
·      Nares posteriors: lubang hidung dalam cavum oris. 
·      Larynx: rongga di belakang pharynx diperkuat cartilago – cartilago. Rongganya disebut auditus laryngis yang dihubungkan pharynx oleh rima glotidis.
Diperkuat oleh tulang kartilago laring. Tulang penyusunnya: Epiglottis, Cartilago thyroidea, Cartilago, Arithenoidea, Cartilago Crycoidea.
·      Trachea: diperkuat Dengan annulus trachealis di sebelah dorsal tidak menutup. Terletak di sebelah ventral esophagus. .
·      Bronchus: trachea kemudian bercabang menjadi dua (dexter dan sinister). Bronchus masuk ke pulmo bercabang – cabang menjadi bronchiolus, bronchus respiratorius, ductus alveolaris, infundibulum, alveolus.
·      Pulmo (dexter dan sinister): tiap lobus dimasuki oleh bronchiolus.
(Frandson, 1992) 

Struktur mikroanatomi sistem pernafasan
a.    Cavum Nasi
Terdiri atas tiga bagian yakni : Regio vertibularis, regio respiratorius dan regio olfaktorius.
·      Regio vestibularis
Tunika mukosa mengandung pigmen, dilapisi epithelium squomus komplek dengan korpus papillare, banyak mengandung rambut yang berguna untuk menyaring udara. Dibawah epithelium terdapat lamina propria dengan glandula serosa, dibawahnya terdapat sub mukosa yang kaya akan vasa dan nervi. Pada Nares anteriores berubah menjadi kulit luar. Pada kuda banyak mengandung rambut, glandula sebasea dan glandula tubuler.
·      Regio respiratorius
Pada regio ini epithel squomus komplek berubah menjadi epitel kolumner komplek dan kemudian menjadi epithel pseudo-komplek bersilia dengan beberapa sel piala. Membrana basalis banyak mengandung serabut retikuler, pada lamina propria banyak serabut elastis, banyak leukosit dan nodus limfatikus. Pada lamina propria banyak ditemukan glandula tubulo-alveolar kebanyakan bersifat serosa, tetapi ada juga yang bersifat mukosa dan campuran. Pada karnivora glandulanya kecil dan sangat jarang. Sekresinya membuat udara respirasi lebih lembab. Sub mukosa terdiri atas jaringan kolagen yang banyak mengandung pleksus venosus dan bersifat erektil. Banyaknya pleksus venosus membantu memanasi udara inspirasi. Sub mukosa berbatasan langsung dengan periosteum atau perikhondrium dari septum nasi.
·      Regio Olfaktorius
·      Sel olfaktorius bersifat kapiler dan tersebar diantara sel sustentakulum. nukleusnya berbentuk bulat Bagian apeks dari sel merupakan modifikasi dari dendrit berupa prosessus yang berbentuk silindris dari nukleus kepermukaan epithelium. Dibagian distal dari bagian ini sel menggembung dan keluar lendir, bagian ini disebut Vesicula olfaktoria, dari sini keluarlah enam sampai delapan buah silia olfaktoria. Silia ini bersifat non motil dan sangat panjang, komponen dari organa sensorik yang dapat distimulasi dengan substansi berbau. Membrana mukosa olfaktoria juga diinervasi saraf bermielin berasal dari nervus trigeminus. Ujung saraf berakhir pada permukaan bebas pada sel sustentakulum dan merupakan reseptor stimuli yang tak bersifat bau.
Lamina propria bersatu dengan periosteum, Lamina propria dan regio olfaktorius banyak mengandung glandula olfaktoria tubulo alveolar bercabang. Sinus paranasalis dilapisi dengan membrana mukosa, glandula sedikit dan bersifat serosa. Glandula nasi lateralis tidak ditemukan pada manusia dan sapi. Mukosa dari duktus insisivus sebagian diliputi dengan kartilago hialin yang padat. Banyak ditemukan glandula tubuler yang bersifat serosa dan campuran, leukosit dan nodulus limfatikus.



1)   Cavum Nasi Burung
Mukosa olfaktoriusnya mirip dengan mamalia. Cavum nasi berhubungan dengan kavum oris melalui choanae, mukosa dilapisi epithel pseudokomplek bersilia dengan sel piala, lamina propria tidak banyak terdapat limfosit. Epithelium dari regio respiratorius berubah menjadi epitel squamus komplek dari kavum oris pada tepi choanae. Glandula nasi lateralis terdapat pada os. frontale dekat khantus medialis mata. Produknya dikeluarkan didalam cavum nasi dan menjaga supaya lubang hidung tidak kering pada waktu terbang.
2)   Sinus Paranasalis
Merupakan sinus tambahan dari kavum nasi terdiri atas sinus frontalis, ethnoidalis, spenoidalis dan maxillaris. Epithelium pseudokomplek bersilia dengan sel piala, sedikit mengandung glandula. Silia bergerak menghilangkan benda asing ataupun mukus kering ke kavum nasi. Mukosanya melekat erat ke periosteum.
b.    Faring
·       Terdiri atas pars respiratoria (nasofaring) dan pars digestoria (orofaring). Dinding dorsal palatum molle terdiri atas mukosa dan tulang, sedangkan dinding faring dibentuk oleh mukosa, fasia pharingea interna, otot serat lintang fasia faringea eksterna dan tunika adventitia yang bersifat longgar.
·       Nasofaring dilapisi epithelium pseudokompleks bersilia, orofaring dengan epitel squamus komplek. Lamina propria orofaring terdiri atas jaringan fibroelastis, banyak mengandung glandula mukosa serta mempunyai banyak jaringan limfatik. Pada nasofaring umumnya bersifat muko-serosa fasia paringea interna terdiri dari serabut longitudinal dan sirkuler yang tebal. Dinding faring banyak mengandung pembuluh darah dan limfe. Pembuluh limfe ini berhubungan dengan pembuluh limfe kavum nasi. Serabut saraf membentuk pleksus superfisial dan profundal.
c.    Laring
·Tersusun atas kartilago hialin dan elastis yang membentuk tabung panjang dan kurang teratur, dilapisi oleh jaringan ikat, otot serat lintang dan membrana mukosa dengan glandula. Merupakan penghubung faring dan trakhea. Rangka laring tersusun dari beberapa kartilago thiroidea, krikoidea dan epiglotis bersifat tunggal, sedangkan kartilago aritenoidea, kornikulata dan kuniformis sepasang. Otot internal berkontraksi menyebabkan bentuk cavum laring berubah-ubah dan mempengaruhi produksi suara.
·       Lamina propria dibentuk oleh jaringan ikat dengan banyak serabut elastis, banyak ditemukan jaringan limfoid dengan nodulus limfatikus dan glandula yang bersifat serosa, mukosa dan campuran. Nodulus limfatikus banyak ditemukan pada sapi dan kemudian berkurang jumlahnya pada kuda, babi dan karnivora.
·       Sub-mukosa tipis, dibawahnya terdapat lapisan otot serat lintang. Pada ruminansia tidak ditemukan sakulus laringis. Pada kuda bagian ini dilapisi epitel pseudokompleks bersilia, pada babi dan karnivora oleh epitel squamus komplek.
d.      Trakea
Struktur histologi trakea terdiri atas :
·       Tunika mukosa terdiri atas epitel pseudo-komplek bersilia dengan membrana basalis, lamina propria, lapisan serabut elastis longitudinal. 
·       Sub mukosa dengan glandula, membrana fibro-elastis dengan cincin kartilago.
·       Lapisan otot yang hanya ditemukan di bagian dorsal dan 
·       Tunika adventitia.
Banyak ditemukan sel piala dan leukosit. Gerak silia kearah hidung berguna untuk mengusir partikel debu. Banyak hewan mempunyai membrana basalis rudimenter. Lamina propria terdiri atas serabut halus dengan banyak limfosit.
Pembatas sub-mukosa adalah membrana fibroelastis dan melekat pada perikhondrium cincin kartilago. Bagian provundal dari lamina propria dan submukosa mengandung banyak glandula tubuler campuran terutama banyak ditemukan dibagian ventral dan lateral. Pada biri-biri, nodulus limfatikus ditemukan pada mukosa. Cincin kartilago dibungkus oleh membran fibrosa.
Tunika muskularis disusun atas muskulus transversus trakhea berupa otot polos dengan arah melintang pada bagian dorsal. Pada kuda ruminansia dan babi terletak sebelah medial ujung cincin . Tunika adventitia terdiri atas serabut elastis dan kolagen yang longgar dengan banyak jaringan lemak, vasa dan nervi.
1)      Trakea Burung
Kartilago berupa cincin yang sempurna. Pada burung air, banyak mengalami osifikasi. Epitheliumnya adalah epithel pseudo-komplek bersilia yang banyak membantu kripte seperti mukosa kavum nasi. Lamina propria banyak limfosit.
2)      Pulmo
Struktur pulmo mirip dengan glandula alveolar komplek. Terletak dalam kavum thorax. Pulmo disusun rangka penyokong berupa kapsula dan jaringan ikat interstitialis, bagian konduksi dalam pulmo dan bagian respirasi. Kapsula pulmo berupa membrana serosa yang disebut pleura viseralis, kapsula memiliki banyak serabut otot polos. Pada sapi kapsula ini paling tebal sedangkan karnivora paling tipis. Lapisan superfisial dibatasi oleh mesothelium. Pulmo terbagi atas lobus, sedangkan lobus dibagi menjadi lobulus oleh jaringan ikat tipis yang disebut septa. Lobulus berbentuk piramid. Tiap lobulus menerima cabang dari bronkhus primarius (cabang dari trakhea) sedangkan lobulus menerima bronkhiolus kecil.
3)      Bronkhus
Trakhea bercabang menjadi dua (bronkhus primarius). Tiap bronkhus primarius bercabang sesuai dengan jumlah lobi. Bronkhus masuk ke dalam pulmo melalui hilus, cabang bronkhus primarius yang masuk kedalam lobulus disebut bronkhiolus. Dibandingkan dengan bronkhus maka bronkhiolus lebih kecil (diameter kurang dari satu mm) epitheliumnya kolumner bersilia, dan tidak mempunyai kartilago.
Makin kecil ukuran bronkhi atau bronkhioli maka lapisan dinding makin tipis, tetapi lapisan otot polosnya masih tetap ditemukan sebagai komponen yang menjolok, bahkan masih tetap ditemukan pada dinding yang membatasi duktus alveolaris.
4)      Bagian Respirasi dari Pulmo
Lobulus primarius: unit fungsional dari pulmo, disusun atas bronkhiolus respiratorius termasuk duktus alveolaris, sakus alveolaris, alveoli, vasa, saluran limfe, nervi dan jaringan ikat.
Bagian respirasi tampak sebagai bangunan, berupa ruang dan dipisahkan oleh septa dengan dinding tipis. Diberbagai tempat ditemukan bronkhi dengan dinding tebal serta arteri dan vena dengan ukuran yang bervariasi. Beberapa alveoli muncul dari dinding bronkhiolus respiratorius. Suatu prosessus sitoplasmatik dari epithelium bronkhiolus respiratorius dan melanjutkan diri ke dinding alveolus.
Duktus alveolaris: percabangan dari bronkhiolus respiratorius. Sakus alveolaris berbentuk polihedral dan hanya terbuka pada sisi yang menghadap ke duktus alveolaris. Mulut sakus alveolaris disokong dengan serabut elastis, kolagen dan otot polos
Dari duktus alveolaris muncul satu alveolus dan sakus alveolaris dengan dua sampai empat alveoli, alveoli berbentuk kantong polihedral yang satu sisinya hilang, sehingga udara dapat berdifusi secara bebas melalui duktus alveolaris. Sakus alveolaris masuk kedalam alveoli. Dinding alveolus banyak mengandung serabut retikuler dan serabut elastis dalam jumlah lebih sedikit. Kedua macam serabut ini merupakan rangka dinding yang cukup kuat dari kantung hawa yang dikelilingi kapiler.
(Dellman, 1992)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar